RSS

Tag Archives: SEMOGGA MEMBANTU

EPIDEMIOLOGI DASAR


Studi Cross Sectional Deskriptif
dan
Cross Sectional Analitik.

 

Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya (Notoatmodjo, 2002).

Penelitian cross sectional ini, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada satu titik waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaan di antara kelompoksampling pada satu titik waktu tertentu. Namun penelitian cross-sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang mempengaruhinya (Nurdini, 2006).[1]

Cross Sectional (potong-lintang) Adalah studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengambil status paparan, penyakit, atau karakteristik terkait kesehatan lainnya, secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada suatu saat (Bhisma Murti, 2003).[2]

Cross Sectional (potong-lintang) adalah studi Epidemiologi yang mempelajari Prevalensi, Distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik secara serentak pada individu dari populasi pada satu saat.

Tujuan studi cross sectional adalah  perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, meneliti hubungan antara paparan dan penyakit dan , membandingkan proporsi orang2 terpapar mengalami penyakit (a/(a+b)) dengan proporsi orang2 tidak terpapar yg mengalami penyakit ( c/(c+d)) .

Berdasarkan tujuannya, studi cross sectional dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1.      Studi cross sectional deskriptif

Studi ini untuk meneliti prevalensi penyakit, atau paparan, atau kedua-duanya, pada suatu populasi tertentu. Prevalensi adalah proporsi kasus (individu-individu berpenyakit) dalam suatu populasi pada satu saat. Karena pengukuran pada satu saat, maka prevalensi disebut juga “prevalensi titik” (“point prevalence”).
Prevalensi = Kasus/ Populasi Total

Studi cross sectional bukan merupakan studi longitudinal, karena tidak melakukan follow up pengaruh paparan terhadap penyakit. Tetapi sebagai studi deskriptif, studi cross sectional dapat meneliti prevalensi penyakit selama satu periode waktu dan menghasilkan data “prevalensi periode” (“period prevalence”). Studi prevalensi period biasanya dilakukan untuk penyakit-penyakit kronis yang gejalanya intermitten.[3]

Contoh studi kasus :

  1. Prevalensi PJK diantara Kel.Terpapar (Orang yg Tidak Aktif OR) dan Kel. Tak Terpapar (Yg Aktif)
OLAHRAGA PJK + PJK - TOTAL
AKTIF 50 (a) 200 (b) 250 (a+b)
TIDAK AKTIF 50 (c) 750 (d) 750 (c+d)
TOTAL 100 900 1000
  • Prevalens 1

=  a / (a+b) = 50 / 250

= 20%

adalah proporsi PJK diantara orang2 yg  aktif OR

  • Prevalens 2

= c / (c+d) = 50 / 750

= 6,7%

adalah proporsi PJK diantara orang2 yg tidak aktif OR

2.      Studi cross sectional analitik

Studi cross sectional analitik mengumpulkan data prevalensi paparan dan penyakit untuk tujuan perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok terpapar dan kelompok tak terpapar, dalam rangka meneliti hubungan antara paparan dan penyakit. Perbandingan terhadap perbedaan kelompok merupakan komponen analitik dari desain ini. Studi ini membandingkan proporsi orang-orang terpapar yang mengalami penyakit.[4]

Contoh studi kasus :

Contoh penelitian Cross sectional bersifat analitik yang dikutip dalam Budiarto (2004) yaitu hubungan antara anemia dengan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Pada setiap ibu hamil yang akan melahirkan dilakukan pemeriksaan Hb kemudian setelah bayi lahir ditimbang berat badannya. Kriteria inklusi adalah persalinan normal/fisiologis dengan kehamilan yang cukup bulan. Batasan untuk anemia adalah Hb kurang dari 11gr%.

Hasil dari tabel tersebut menunjukkan bahwa resiko anemia terhadap BBLR 2 kali lebih besar dibandingkan dengan tidak anemia. Resiko atribut (RA) = 0,15 – 0,08 = 0,07. Ini berarti bahwa resiko BBLR yang dapat dihindarkan bila tidak terjadi anemia pada ibu hamil sebesar 0,007.

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian yaitu dengan uji Chi-Square. Uji Chi-Square berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya (Wijayanto, 2009).

Dari hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara anemia dan BBLR. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional karena pengumpulan data dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan, tetapi bersifat analitis karena dilakukan analitis seperti penelitian kohor. Kelemahan penelitian ini antara lain tidak diketahui apakah anemia terjadi sebelum hamil atau setelah hamil dan komparabilitas kedua kelompok tidak dapat dilakukan, misalnya tingkat pendidikan, makanan yang dikonsumsi, sosial ekonomi, dan lain-lain yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya anemia (Budiarto, 2004).[5]

v Pemilihan Sampel

Studi cross sectioanl dianjurkan untuk menggunakan prosedur pencuplikan random (random sampling) agar deskripsi dalam sampel mewakili (representatif) populasi sasaran. Mekanisme dasar pencuplikan random adalah pencuplikan random sederhana (simple random sampling), dimana masing-masing anggota populasi memiliki probabilitas yang sama dan independen untuk masuk ke dalam sampel. Karena peneliti mencuplik sampel random dari populasi (pada satu titik waktu), maka status paparan dan status penyakit dari subyek penelitian terbuka untuk bervariasi, disebut non-fixed sampling.

Studi ini juga dapat menggunakan teknik pencuplikan random kompleks, misalnya pencuplikan random berstrata (cluster random sampling) dan pencuplikan random klaster dengan pembagian populasi menurut strata, lalu pencuplikan sampel random dari masing-masing strata. Pencuplikan random klaster dimulai dengan penentuan klaster sebagai unit pencuplikan, lalu mencuplik klaster-klaster tersebut secara random. Teknik pencuplikan random tersebut lebih efisien daripada pencuplikan random sederhana.
Prosedur pencuplikan random sederhana dapat digunakan pada studi cross sectional analitik jika frekuensi paparan maupun penyakit cukup tinggi. Sebab prosedur itu akan memberikan sampel berpenyakit (kasus) dan tak berpenyakit (kontrol) dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat dibandingkan dalam status paparan. Sebaliknya prosedur random sederhana tidak tepat dipilih jika frekuensi paparan maupun penyakit rendah, sebab sampel yang diambil random akan memuat subyek berpenyakit maupun subyek tak berpenyakit.

Kelebihan dan Kekurangan Desain Studi Cross Sectional
a. Kelebihan.

i.      Mudah dilakukan dan murah, karena tidak memerlukan follow-up.
ii.       Efisien untuk mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan distribusi sejumlah karakteristik populasi, misalnya umur, jenis kelamin, ras, ataupun status sosial ekonomi.
iii.       Dapat digunakan oleh administrator kesehatan untuk merencanakan fasilitas, pelayanan, ataupun program kesehata.
iv.      Dapat untuk memformulasikan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji dalam studi analitik lainnya.
v.      Tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (faktor risiko)
vi.      Tidak ada subyek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat, bagi subyek yang kebetulan menjadi kontrol.

b. Kekurangan

i.      Untuk menganalisis hubungan kausal antara penyakit dan penyakit terbatas, padahal validitas penilaian hubungan kausal menuntut sekuensi waktu (temporal sequence) yang jelas antara paparan dan penyakit (yaitu, paparan harus mendahului penyakit).
ii.       Penggunaan data prevalensi (bukan insidensi) menyesatkan hasil studi cross sectional karena mencerminkan tidak hanya aspek etiologi penyakit tetapi juga aspek survivalitas penyakit itu sebab prevalensi merupakan fungsi dari insidensi dan durasi penyakit (survivalitas penyakit).[6]

v Contoh aplikasi desain cross sectional  :

  1. Pada Penelitian Paparan auramin di pabrik zat pewarna dan kanker buli-buli.Populasinya adalah semua pekerja pada pabrik zat pewarna (pekerjaan A) dan semua pekerja pada bukan pabrik zat pewarna (pekerjaan B).  Cara pengambilan data yaitu dengan memeriksa secara bersamaan paparan auramin pada pekerjaan A dan Pekerjaan B.  Selanjutnya kita akan melihat  pada pekerjaan A orang yang sakit dan terpapar auramin, orang tidak sakit dan tidak terpapar auramin dan pada pekerjaan B orang yang sakit dan tidak terpapar auramin dan orang yang tidak sakit serta tidak terpapar auramin.

 

Studi Cohort

Adalah desain studi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan memilih dua atau lebih kelompok-kelompok studi berdasarkan perbedaan status paparan, kemudian mengikuti sepanjang suatu periode waktu untuk melihat berapa banyak subyek dalam masing-masing kelompok mengalami penyakit atau kesudahan tertentu lainnya. (Bhisma Murti, 2003)[7]

Penelitian kohort merupakan penelitian epidemiologis non-eksperimental yang mengkajiantara variabel independen (faktor resiko) dan variabel dependen (efek kejadian/penyakit). Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secaralongitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort disebut juga sebagai penelitian prospektif.Peneliti yang menggunakan rancangan ini mengobservasi variabel independen (faktor resiko)terlebih dahulu, kemudian subjek diikuti hingga periode waktu tertentu untuk melihat pengaruhvariabel independen terhadap variabel dependen (kejadian atau penyakit yang diteliti.[8]

Studi Kohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit.  Ciri-ciri studi kohort adalah pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek dalam perkembangannya mengalami penyakit yang diteliti atau tidak.  Kelompok-kelompok studi dengan karakter tertentu yang sama (yaitu pada awalnya bebas dari penyakit) tetapi memiliki tingkat paparan yang berlainan, dan kemudian dibandingkan insidensi penyakit yang dialaminya selama periode waktu, disebut kohort.[9]

Terdapat beberapa jenis desain penelitian kohort:

  1. Studi kohort prospektif dengan kelompokpembanding internal.
  2. Studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal (studi kohort ganda)
  3. Studi kohort retrospektif
  4. Nested case control study[10]

Jenis Studi Cohort:

  1. Studi cohort prospektif (studi cohort “concurrent”)
    Status paparan diukur pada awal penelitian dan cohort diikuti untuk melihat kejadian penyakit di waktu yang akan datang.
  2.  Studi cohort historis (studi cohort retrospektif, studi prospektif “non-concurrent”) Paparan dan penyakit sudah terjadi di waktu lampau sebelum dimulainya penelitian, sehingga variabel-variabel tersebut diukur melalui catatan historis.

v Kelebihan dan kekurangan studi cohort

  1. Kelebihan
  2. Kesesuaiannya dengan logika studi eksperimental dalam membuat inferensi kausal, yaitu penelitian dimulai dengan menentukan paparan diikuti dengan penyakit. Sehingga studi ini dapat memastikan hubungan temporal paparan mendahului penyakit karena pada awal penelitian semua subyek dalam populasi studi bebas dari penyakit yang diteliti.
  3. Dapat menghitung insidensi kumulatif, laju insidensi, serta atribut risk.
  4. Cocok untuk meneliti paparan langka.
  5.  Dapat mempelajari sejumlah akibat dari sebuah paparan.
  6. Jika menggunakan data sewaktu (studi cohort “ concurrent”), kemungkinan bias seleksi dalam menyeleksi subyek dan menentukan status paparan adalah kecil/ meminimalkan bias dalam menentukan status paparan.
  7. Bersifat observasional, maka tidak ada subyek yang sengaja dirugikan karena tidak mendapat terapi yang bermanfaat, atau mendapat paparan faktor yang merugikan.
    1. Kekurangan
      1. Tidak efisien untuk mengevaluasi penyakit langka, kecuali jika presentase attributable risk tinggi.
      2. Jika prospektif, sangat mahal dan memakan banyak waktu
      3.  Jika retrospektif, membutuhkan ketersediaan catatan lengkap dan akurat.
      4. Validitas bisa terancam oleh subyek-subyek yang hilang waktu follow-up.[11]

v Contoh aplikasi dari studi cohort

  1. A.     “Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan KejadianThypoid.”

Dalam kasus ini populasi non kasus dibagi menjadi 2 yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan (sebagai kelompok terpapar, E+) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan(sebagai kelompok tidak terpapar, E-). Pengamatan cohort dilakukan secara kontinu, sehinggadiikuti denga follow up. Pada periode follow up ini kelompok terpapar dibagi menjadi 2 yaituterpapar & sakit thypoid (E+D+) dan terpapar & tidak sakit thypoid (E+D-). Untuk kelompok tidak terpapar juga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tidak terpapar & sakit thypoid (E-D+) dan tidak terpapar-tidak sakit thypoid (E-D-).

Ø  Insidence kelompok terpapar (Po) = (E+D+) / (E+D+) + (E+D-)

Ø  Insidence kelompok tidak terpapar (P1) = (E-D+) / (E-D+) + (E-D-)

Ø  Relative Risk (RR) = Po / P1

Dalam kasus ini desain cohort adalah sebagai berikut :Yang dihitung adalah perbandingan resiko menjadi sakit antara kelompok terpapar dengan kelompok tak terpapar.

Disebut : Relative Risk atau Risk Ratio (RR)

Insiden dikelompok terpapar RR Insiden dikelompok tak terpapar[12]

  1. B.     Pada penelitian yang ingin membuktikan adanya hubungan antara CA Paru dengan merokok (Risiko) dengan pendekatan prospektif maka kita akan  :
    1. a.      Menentukan populasi dan sampel penelitian semua pria dengan umur antara 40 – 50 tahun baik yang merokok maupun tidak merokok pada suatu wilayah atau tempat tertentu.
    2. b.      Mengidentifikasi   orang   yang   merokok    dan     yang     tidak     merokok     dengan perbandingan jumlah yang sama.
    3. c.         Mengamati effek pada kelompok yang merokok dan kelompok orang yang tidak merokok sampai pada periode waktu tertentu misal 10 tahun.,
    4. d.      Membandingkan proporsi orang-orang yang menderita CA paru dan orang-orang yang tidak menderita CA paru baik pada kelompok perokok (kasus) maupun pada kelompok tidak perokok (kontrol).[13]

 Studi Case Control

Studi Kasus Kontrol adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi kasus kontrol adalah pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak.  Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi (kasus baru) yang muncul dari suatu populasi, sedang subyek yang sedang tidak menderita penyakit disebut kontrol, yang dipilih secara acak dari populasi yang berbeda dengan populasi asal kasus.  Tetapi untuk keperluan inferensi kausal, kedua populasi itu harus dipastikan setara.  Studi Case Control Adalah studi observasional yang menilai hubungan paparan penyakit dengan cara menentukan sekelompok orang-orang berpenyakit (kasus) dan sekelompok orang-orang yang tidak berpenyakit (kontrol), lalu membandingkan frekuensi paparan. (Bhisma Murti, 2003)[14]

Jenis Studi kasus kontrol terdiri dari:

  1. Studi retrospektif disebut studi retrospektif (Kleinbaum et, al., 1982; Mausner and Kramer, 1985; Sackett et, al., 1991) karena arah pengusutan (direction of inquiry ) rancangan tersebut bergerak dari akibat (penyakit) ke sebab (paparan).  Dengan kata lain subyek dipilih berdasarkan sudah berkesudahan (outcome) tertentu, lalu dilihat ke belakang (backward) tentang riwayat status paparan penelitian yang dialami subyek.
  2. Studi prospektif disebut studi prospektif (Hennekens dan Buring (1987) studi kasus kontrol dapat bersifat retrospektif maupun prospektif, tergantung pada kapan peneliti membuat klasifikasi status penyakit subyek untuk dipilih pada penelitian.  Apabila klasifikasi status penyakit telah atau tengah dibuat pada saat penelitian dimulai, maka studi kasus kontrol bersifat retrospektif.  Sebaliknya apabila klasifikasi status penyakit masih dilakukan pada waktu yang akan datang, maka studi kasus kontrol bersifak prospektif.

Kelebihan Studi Kasus Kontrol:

  1. Sifatnya relatif murah dan mudah dilakukan
  2.  Cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang
  3. Karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka peneliti memiliki keleluasaan menentukan rasio ukuran sampel dan kontrol yang optimal.
  4.  Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit.

Karakter ini menyebabkan studi kasus kontrol tidak saja cocok untuk menguji  hipotesis hubungan paparan dan penyakit, tetapi juga tepat untuk mengeksplorasi kemungkinan hubungan sejumlah paparan dan penyakit yang belum jelas.

Kekurangan Studi Kasus Kontrol

  1. Studi  kasus  kontrol  adalah  alur  metodologi  inferensi  kausal  yang  bertentangan  dengan logika eksperimen klasik yaitu melihat akibatnya dulu, baru menyelidiki apa penyebabnya sehingga rawan bias (bias seleksi dan bias informasi) terutama apabila pemilihan subyek berdasarkan status penyakit apabila paparan telah (atau tengah) berlangsung.
  2. Secara umum studi kasus kontrol tidak effisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka, namun bisa dilakukan apabila beda resiko (RD) antara populasi yang berpenyakit dan tak berpenyakit cukup tinggi.  Untuk itu dibutuhkan ukuran sampel yang besar, disamping prevalensi paparan pada populasi yang berpenyakit cukup tinggi.
  3.  Karena subyek dipilih  berdasarkan  status  penyakit,  pada  umumnya  peneliti  tidak dapat menghitung laju insidensi (kecepatan kejadian penyakit) baik pada populasi yang terpapar maupun tidak terpapar.  Sehingga untuk menghitung risiko relatif menggunakan ukuran rasio odds (OR).
  4. Pada beberapa situasi tidak mudah untuk  memastikan  hubungan  temporal  antara paparan dan penyakit.
  5.  Kelompok  kasus dan kelompok  kontrol  dipilih  dari  dua  populasi  yang  terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah kasus dan kontrol pada populasi studi benar-benar setara dalam hal faktor-faktor luar dan sumber-sumber distorsi lainnya.

Contoh aplikasi desain :

  1. Pada  penelitian hubungan antara CA payudara dan penggunaan kontrasepsi oral (OC) pada rumah sakit X pada periode tahun 2008.Maka kasus adalah jumlah  kasus  baru  CA  payudara  di  RS X  selama  tahun  2008  dan kontrol semua pasien non kanker dalam jumlah yang sama dari RS X.  Selanjutnya kita akan melihat melihat berapa orang yang terpapar dan berapa orang yang tidak terpapar kontrasepsi oral pada kelompok kasus dan kontrol pada periode tahun 2008 tersebut.  Jika kasus secara bermakna lebih banyak menggunakan OC dibanding kontrol atau menggunakan menggunakan OC lebih lama dengan dosis astrogen yang tinggi ketimbang non kasus , maka kita bisa menyimpulkan ada pengaruh buruk dari OC sehingga kita sampai pada kesimpulan pemakaian OC memperbesar kemungkinan untuk mengalami CA paru. Sebaliknya jika pada kelompok kasus dan kontrol menunjukkan adanya distribusi pemakaian OC yang sama, maka kita bisa menyimpulkan tidak dapat pengaruh OC terhadap kejadian CA payudara.[15]
  2. “Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan KejadianThypoid.” Dalam kasus diatas, kita ingin menyelidiki apakah terjadinya penyakit thypoiddipengaruhi oleh kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Untuk keperluan tersebut, kelompok kontrol dipilih dari anak-anak usia sekolah (5 ± 12 tahun) yangsehat dan tanpa gejala thypoid, sedangkan kelompok studi sebaiknya dipilih dari anak-anak usiasekolah (5 ± 12 tahun) yang berobat atau berkonsultasi mengenai gejala thypoid: demam tinggi,diare, nyeri seluruh tubuh, pusing, mual dan muntah. Sedangkan penentuan status infeksi Salmonella typhosa, kuman penyebab thypoid, menggunakan Widal Test  yaitu pemeriksaanlaboratorium yang sering dilakukan sebagai penunjang diagnosis penyakit thypoid dilihat darigejala-gejala yang terjadi.[16]

Studi eksperimen tingkat individu

adalah suatu set tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala. Dalam penelitian ini, sebab dari suatu gejala akan diuji untuk mengetahui apakah sebab (variabel bebas) tersebut memengaruhi akibat (variabel terikat). Penelitian ini banyak digunakan untuk memperoleh pengetahuan dalam bidang ilmu alam dan psikologi social

Contoh aplikasi :

  1. sebuah perusahaan farmasi akan meluncurkan produk baru yaitu obat influenza. Maka perusahaan tersebut akan melakukan percobaan dengan memberikan obat flu tersebut kepada individu yang sedang menderita flu, kemudian mengobservasi berapa lama waktu yang diperlukan individu untuk sembuh setelah mengkonsumsi obat flu tersebut untuk mengetahui dosis obat yang di perlukan untuk penyembuhan penyakit flu.
  2. 2.     Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh penambahan yodium pada seseorang yang erat hubungannya dengan kejadian penyakit gondok. Studi eksperimental dilakukan dengan melihat perbedaan antara individu yang dalam makanan kesehariannya diberi tambahan asupan yodium, sedangkan yang lainnya tidak diberi tambahan apa pun.

Studi komuniti

studi di mana intervensi dialokasikan kepada komunitas, bukan kepada individu-individu. Intervensi komunitas dipilih karena alokasi intervensi tidak mungkin atau tidak praktis dilakukan kepada individu.

Contoh aplikasi :

  1. dengan intervensi pencegahan penyakit dengan melakukan kampanye mencuci tangan dengan sabun secara benar yang intensif pada komunitas secara langsung. Komunitas yang mendapatkan intervensi dan komunitas pembanding yang mirip yang tidak mendapatkan intervensi menunjukkan bahwa jumlah penderita diare berkurang separuhnya.

Plasebo dan Masking

  1. 1.     Plasebo

Plasebo adalah zat atau obat tidak aktif yang tampak sama dan diberikan dengan cara yang sama seperti obat aktif atau pengobatan yang diuji. Efek dari obat aktif atau pengobatan kemudian dibandingkan dengan efek plasebo. Juga disebut “pil gula”.[17]

Istilah Plasebo berasal dari bahasa Latin yang artinya “saya harus nyaman”. Plasebo adalah zat yang tampaknya seperti obat padahal sebenarnya netral dan tidak memiliki efek kimia tersendiri. Contoh plasebo antara lain kapsul berisi gula atau suntikan air murni yang tidak mengandung bahan aktif apa pun.[18]

Plasebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan Istilah plasebo diambil dari bahasa latin yang berarti “I shall please” (saya akan senang) yang mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu penanganan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan problem – tanpa melihat apakah substansi yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak aktif. Dalam penelitian medis tentang kemoterapi, sebuah plasebo -disebut juga “pil gula”- merupakan zat yang secara fisik menyerupai obat aktif tetapi sebetulnya tidak memiliki kandungan obat yang sesungguhnya.[1] Dengan membandingkan efek dari obat aktif dan plasebo, peneliti dapat menentukan apakah obat memiliki efek khusus di luar yang diharapkan[19]

Efek plasebo adalah sembuhnya pasien dari penyakitnya ketika mengonsumsi obat kosong atau plasebo dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan. Plasebo biasanya hanya berisi serbuk laktosa yang tidak memiliki khasiat apapun sebagai obat.Efek ini muncul karena pasien yang mendapat plasebo tidak tahu apa yang diminumnya, namun sugesti bisa membuat obat itu benar-benar manjur layaknya obat asli. Efek plasebo banyak digunakan dalam pengobatan alternatif, dimana penyembuhan lebih didasarkan pada kepercayaan menggunakan obat herbal dan terapi berkelanjutan dibandingkan ilmu pengetahuan.[20]

Para peneliti pun setuju bahwa obat plasebo punya beberapa keuntungan dibanding obat asli karena:

1. Mengurangi efek samping bahan kimia yang masuk ke tubuh

2. Mengurangi risiko kecanduan obat atau keracunan

3. Mengurangi biaya pengeluaran untuk penyembuhan penyakit karena harganya yang lebih murah.

Masking

Masking adalah salah satu metode intervensi dalam sebuah penelitian. Masking merupakan pencegahan/menyembunyikan identitas / data seseorang dalam sebuah penelitian. Hal ini digunakan  karena untuk menghindari tendensi tendensi, intervensi pada obyek penelitian. Dan membuat penelitian berjalan lebih obyektif.

Refrensi :

Budiarto, E. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.

http://info–budidaya.blogspot.com/2012/03/makalah-cross-sectional-atau-potong.html

http://www.kti-skripsi.net/2009/06/penelitian-cross-sectional.html

http://kamuskesehatan.com/arti/plasebo/

http://health.detik.com/read/2009/11/13/083037/1240927/766/plasebo-obat-mujarab-tanpa-bahan-kimia

http://medicalera.com/3/18613/efek-plasebo

Murti, Bhisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada       University Press.

Nevid, Jeffrey, Psikologi Abnormal, Jakarta:Erlangga

Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Citra: Jakarta.

Sayogo, Savitri. 2009. Studi Cross-sectional Atau Potong Lintang.


[19] Nevid, Jeffrey, Psikologi Abnormal, Jakarta:Erlangga, 2005, hal. 22-25.

 
 

Tags: , , ,

UJI KERJA HUKUM MENDEL


Disusun oleh : HENDRO NURCAHYO

Untuk Memenuhi tugas Kelas XII “Praktikum Biologi”

A. Tujuan                                                                       

  1. Memahami dan mempelajari tentang Hukum Mendel dengan analogi kancing sebagai model gen

B. Teori Singkat

  1. Pengertian Enzim.

Enzim adalah biomolekul berupa protein yangberfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organikMolekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain yang disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai promoter.Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama. Enzim dapat tersusun dari protein saja atau memiliki komponen lain selain protein, yaitu kofaktor.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah sebagai berikut :

  1. Suhu

Enzim menjadi rusak bila suhunya terlalu tinggi atau rendah.  Protein akan mengental atau mengalami koagulasi bila suhunya terlalu tinggi (panas).

  1. Derajat keasaman (pH)

Enzim menjadi nonaktif jika diperlakukan pada asam dan basa yang sangat kuat.  Sebagian besar enzim bekerja paling efektif pada kisaran pH lingkungan yang sedikit sempit (pH = ±7).  Di luar pH optimal, kenaikan atau penurunan pH menyebabkan penurunan aktivitas enzim dengan cepat.

  1. Konsentrasi enzim, substrat, dan kofaktor

Jika pH dan suhu suatu sistem enzim dalam keadaan konstan serta jumlah substrat berlebihan, maka laju reaksi sebanding dengan jumlah enzim yang ada.  Jika pH, suhu dan konsentrasi enzim dalam keadaan konstan, maka reaksi awal hinga batas tertentu sebanding dengan substrat yang ada.  Jika enzim memerlukan suatu koenzim atau ion kofaktor, maka konsentrasi substrat dapat menetukan laju reaksi.

  1. Inhibitor enzim

Kerja enzim dapat dihambat, baik bersifat sementara maupun tetap oleh inhibitor berupa zat kimia tertentu.  Pada konsentrasi substrat yang rendah akan terlihat dampak inhibitor terhadap laju reaksi.

  1. Pengertian Enzim Katalase

Katalase adalah enzim yang mengandung empat gugus heme, pada tulang, membran mukosa, ginjal dan hati. Aktifitas enzim ditemukan dalam mitokondria, sitoplasma dan peroksosom. Katalase memiliki empat rantai polypeptide, masing-masing terdiri dari 500 lebih asam amino. Catalase juga memiliki empat grup heme yang dibentuk dari cincin protoporphyrin yang mengandung atom besi tunggal. Berat molekulnya: 118.054,25 gram/mol. Struktur sekunder : 31% helical (22 helik; 161 residu) 16% beta sheet (19 strands; 82 residu).

Katalase berperan sebagai enzim peroksidasi khusus dalam reaksi dekomposisi hydrogen peroksida menjadi oksigen dan air. Enzi mini mampu mengoksidasi 1 molekul hydrogen peroksida menjadi oksigen. Kemudian secara simultan juga dapat mereduksi molekul hydrogen peroksida kedua menjadi air.

Bentuk reaksi kimianya adalah:

H2O –> H2O + O2

Reaksi dapat berjalan bila terdapat senyawa pemberi ion hydrogen (AH2) seperti methanol, etanol dan format.

Peran katalase dalam mengkatalis H2O2 relatif lebih kecil dibandiingkan dengan kecepatan pembentukannya. Sel-sel yang mengandung katalase dalam jumlah sedikit sangat rentan terhadap peroksida. Oleh karena itu katalase berperan penting dalam mekanisme pertahanan sel darah merah terhadap serangan oksidaror hydrogen peroksida.

C.  Alat dan Bahan

  1. Alat:
    1. 10 buah tabung reaksi.
    2. Korek api.
    3. Rak tabung reaksi.
    4. Pipet.
    5. Pisau.
    6. Sendok.
    7. Pinset.
    8. Lidi
    9. Mortal dan cawan mortal.
    10. 3 buah gelas ukur.
    11. Pembakar spirtus.
    12. Tripot ( penahan gelas kimia saat pemanasan air).
    13. Penggaris.
    14. Alat tulis.
  1. Bahan:
    1. Hati ayam.
    2. Jantung ayam.
    3. H2O2. (hydrogen peroksida )
    4. KOH/NaOH (basa).
    5.  HCl (asam).
    6. Es batu
 D.   Cara Kerja
  1. Menyiapkan alat dan bahan
  2. Menandai tiap tabung reaksi dengan nomer 1 sampai 10
  3. Menyalakan pembakar spiritus.
  4. Menaruh air kurang lebih 150 ml kedalam gelas kimia, lalu memenaskannya diatas tripot yang bawahnya adalah pembakar spritus yang telah menyala.
  5. Memotong hati hingga menjadi bagian kecil, lalu di uleg dan membuat ekstrak hati.
  6. Memasukan ekstrak hati setinggi 1 cm ke dalam tabung reaksi nomer 1,3,5,7 dan 9.
  7. Memotong jantung hingga menjadi bagian kecil, lalu di uleg dan membuat ekstrak jantung.
  8. Memasukan ekstrak jantung setinggi 1 cm ke dalam tabung reaksi nomer 2,4,6,8 dan 10.
    1. Memasukkan 1 ml ekstrak hati ke dalam tabung reaksi (no.1) 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    2. Memasukkan 1 ml ekstrak jantung ke dalam tabung reaksi (no.2) 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    3. Memasukkan 1 ml ekstrak hati ke dalam tabung reaksi (no.3) + 10 tetes HCl + 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    4. Memasukkan 1 ml ekstrak jantung ke dalam tabung reaksi (no.4) + 10 tetes HCl + 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    5. Memasukkan 1 ml ekstrak hati ke dalam tabung reaksi (no.5) + 10 tetes KOH/NaOH + 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    6. Memasukkan 1 ml ekstrak jantung ke dalam tabung reaksi (no.6) + 10 tetes KOH/NaOH + 10 tetes H2O2, kemudian mengamati perubahannya.
    7. Memasukkan 1 ml ekstrak hati ke dalam tabung reaksi (no.7) , kemudian memasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan.
    8. Memasukkan 1 ml ekstrak jantung ke dalam tabung reaksi (no.8), kemudian memasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan.
    9. Memasukan sejumlah batu es ke dalam gelas kimia yang telah di beri air.
    10. Memasukkan 1 ml ekstrak hati ke dalam tabung reaksi (no.9), kemudian memasukkan tabung ke dalam gelas kimia yang telah diisi air es + 10 tetes H2O2, dan mengamati perubahannya.
    11. Memasukkan 1 ml ekstrak jantung ke dalam tabung reaksi (no.10), kemudian memasukkan tabung ke dalam gelas kimia yang telah diisi air es + 10 tetes H2O2, dan mengamati perubahannya.
    12. Membakar lidi, meletakkan di atas setiap mulut tabung reaksi, kemudian mengamati perubahannya. Melakukannya  berulang kali di setiap perlakuan semua tabung reaksi
    13. Mencatat hasil pengamatan pada tabel.
  1. E.   Hasil Pengamatan

No.

Pembeda

Perubahan

Gelembung Gas

Perubahan

Nyala Api

1.

Ekstrak hati + H2O2

+ + + +

++++

2.

Ekstrak jantung + H2O2

 

+ + +

+++

3.

Ekstrak hati + HCl + H2O2

+ +

++

4.

Ekstrak jantung + HCl + H2O2

-

-

5.

Ekstrak hati + KOH/NaOH + H2O2

+ + +

+++

6.

Ekstrak jantung + KOH/NaOH + H2O2

+ +

++

7.

Ekstrak hati + air panas + H2O2

+ +

++

8.

Ekstrak jantung + air panas + H2O2

+

-

9.

Ekstrak hati + air es+ H2O2

+ + +

+++

10.

Ekstrak jantung + air es+ H2O2

+ +

+++

Keterangan untuk perubahan gelembung dan nyala api:
+ + + + : banyak sekali/menyalah lama sekali
+ + +    : banyak/menyalah lama
+ +       : sedang/menyala sedang
+          : sedikit/menyala sebentar
-                                                                                                                     : tidak ada/menyala

 F.  Analisis Data

Setelah peneliti melakukan penelitian tentang kerja enzim kata lase yang berada di hati dan jantung ayam. Peniliti mendapatkan beberapa hasil penelitian yaitu, Pada percobaan pertama (tabung reaksi no.1) ekstrak hati ditambah H2O2 terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang banyak sekali dan saat dimasukkannya lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api yang terang dan lama sekali.

Pada percobaan kedua (tabung reaksi no.2) ekstrak jantung ditambah H2O2 terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang banyak dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan terjadi dengan waktu yang lama.

Pada percobaan ketiga (tabung reaksi no.3) ekstrak hati ditambah HCl ditambah H2O2 terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang sedang dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan dengan jangka waktu yang sedang.

Pada percobaan keempat (tabung reaksi no.4) jantung ditambah HCl ditambah H2O2 tidakterjadi pembentukan gelembung-gelembung udara dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, tidak timbul nyala api.

Pada percobaan kelima (tabung reaksi no.5) ekstrak hati ditambah KOH/NaOH ditambah H2O2 terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang banyak dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dengan jangka waktu lama.

Pada percobaan keenam (tabung reaksi no.6) ekstrak jantung ditambah KOH/NaOH ditambah H2O2 terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang sedang dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan dengan jangka waktu yang sedang.

Pada percobaan ketujuh (tabung reaksi no.7) ekstrak hati ditambah H2O2 lalu dimasukan kedalam air mendidih  terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang sedang dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan dengan jangka waktu lama.

Pada percobaan kedelapan (tabung reaksi no.8) ekstrak jantung ditambah H2O2 lalu dimasukan kedalam air mendidih  terjadi pembentukan gelembung-gelembung udara yang sedikit dan saat  lidi membara ke dalamnya, tidak timbul nyala api.

Pada percobaan kesembilan (tabung reaksi no.9) ekstrak hati ditambah H2O2 lalu dimasukkan kedalam air es terjadi gelembung-gelembung udara yang banyak dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan dengan jangka waktu lama.

Pada percobaan kesepuluh ekstrak jantung (tabung reaksi no.10) ditambah H2O2 lalu dimasukkan kedalam air es terjadi gelembung-gelembung udara yang sedang dan saat dimasukkan lidi membara ke dalamnya, timbul nyala api dan dengan jangka waktu sedang.

G.    Pembahasan

Pada tabung manakah terbentuk gelembung gas yang paling banyak? Mengapa demikian?

Jawab: Pada tabung reaksi pertama dengan ekstrak hati dan H2O2. Karena enzim katalase yang terdapat di dalam hati ayam  ( tabung reaksi no.1 ) lebih banyak dari pada di tabung tabung raksi yang lainnya oleh karena itu pada tabung reaksi no.1 menghasilkan H2O (air) dan O2 (oksigen) lebih banyak dan terbentuklah gelembung-gelembung yang banyak. Karena salah satu fungsi enzim katalase adalah mengubah H2O2 menjadi H2O (air) dan O2 (oksigen)

Pada tabung manakah enzim katalase berada?

Jawab: Pada semua tabung reaksi

Tuliskan kerja enzim katalase pada percobaan ini.

Jawab: Enzim katalase melakukan peroksidasi khusus dalam reaksi dekomposisi hydrogen peroksida menjadi oksigen dan air. Enzim katalase ini mampu mengoksidasi 1 molekul hydrogen peroksida H2O2 menjadi oksigen O2. Kemudian secara simultan juga dapat mereduksi molekul hydrogen peroksida kedua menjadi air H2O. Berikut adalah bentuk reaksi kimianya. 2H2O2 à 2H2O + O2

Tuliskan faktor apa sajakah yang mempengaruhi kerja enzim?

Jawab: Pada percobaan ini faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah derajat keasaman (pH) dan suhu.

H.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat peneliti simpulkan bahwa jumlah enzim katalase yang paling terdapat di organ hati, terbukti dengan selisih jumlah gelembung yang terbetuk di antara ekstrak hati dan jantung di berbagai perlakuan. Jumlah gelembung pada ekstraks hati lebih banyak di banding di ekstraks jantung.

Selain itu pada penelitian ini dapat kita lihat kerja enzim katalase dapat di pengaruhi oleh berbagai kondisi seperti meningkatnya dan menurunnya derjat keasamaan ( Ph ) dan meingkat atau menurunya suhu lingkungan. Terbukti pada saat keadaan netral ( tidak asam dan tidak basa ) kerja enzim kalatale sangat optimal sedangkan pasa suasana basa ataupun asam kerja enzim katalase akan berkurang bahkan pada pecobaan di susana asam enzim katalase tidak dapat bekerja. Selain itu pada suhu normal kerja enzimpun uga optimal. Namun pada suhu tinggi kerja enzim menjadi menurun, begitu pula saat kondisi suhu rendah kerja enzim katalase menjadi menurun.

I.      Daftar Pustaka

http://www.anneahira.com/enzim-katalase.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2068678-enzim-katalase-protein-terkait-fe/

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/2119456-enzim-katalase/

http://vidtrie.wordpress.com/biologi-sma/biologi-xii-ipa-metabolisme/

 
Leave a comment

Posted by on July 2, 2013 in KNOWLADGE, umum

 

Tags: , ,

 
Gamais Online

MUSLIM RABBANI, CERDAS, BERDEDIKASI

Senat FKM Undip

SENAT MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO

panduherusatrio

this is the little part of my life

Source of Inspiration

All is One, co-creating with the Creator

I LOVE MY SELF

Love My Self Than Love Others

ihsanudin

Thinking Ahead, Thinking Accross, Thinking Agian.

Amgah

My Blog, life, an my work

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: